Wisata Hutan Mangrove Di Medan

Hai Brader and Sister,

Kali ini kami akan memberi informasi tentang Wisata Hutan Mangrove Di Medan, yang wajib Brader and Sister kujungi jika ingin berlibur ke Hutan Mangrove di Medan.

1. Wisata Mangrove Kampoeng Nipah Sumatera Utara

Wisata Mangrove Terpadu di Kampoeng Nipah Sumatera Utara– Liburan tidak hanya tentang jalan-jalan yang menyenangkan untuk melepas kepenatan, liburan juga bisa mengandung nilai edukasi, seperti berwisata mangrove. Bicara tentang mangrove, saya punya pengalaman seru nih liburan fullday di salah satu Desa Mangrove yang ada di Sumatera Utara. Desa wisata yang saya kunjungi ini diberi nama “Kampoeng Nipah” oleh masyarakat pengelolanya.  Kampoeng Nipah merupakan lokasi ekowisata mangrove terpadu berbasis masyarakat pertama di Indonesia, dimana dalam satu lokasi ini terdapat hutan mangrove, Pengolahan produk berbahan dasar mangrove, hingga homestay yang dikelola oleh penduduk setempat. Hutan bakau atau mangrove mempunyai banyak manfaat, salah satunya yaitu adalah untuk melindungi garis pantai dari abrasi atau pengikisan, serta meredam gelombang besar termasuk tsunami.
Wisata Mangrove ini terletak di Desa Sei Nagalawan, Perbaungan Kab. Serdang Bedagai. Desa Wisata Mangrove dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 1,5 – 2 jam dari Kota Medan dengan menggunakan transportasi umum dan berhenti di Simpang Pantai Klang, Kec. Sei Buluh masuk kedalam menuju lokasi wisata kurang lebih 8km lagi. Kondisi jalan sudah cukup baik dan sudah di aspal. Anda bisa naik sepeda motor, mobil maupun bus untuk menuju lokasi wisata ini. Fasilitas di tempat wisata ini sudah dibilang memadai, karena sudah terdapat kantin, toilet, pondok, tempat sholat, area memancing dan terdapat 3 buah homestay, 1 homestay berisi 1 kasur ukuran sedang dan satu kipas angin, kamar ini muat untuk 4 orang. Retribusi masuk lokasi wisata ini berkisar Rp 8.000,- dan parkir Rp 5.000,-.
Desa wisata ini dipelopori oleh sepasang suami istri, Sutrisno dan Jumiati. mereka bersama kelompoknya masing-masing pernah mendapat penghargaan di tingkat nasional dan internasional. Seperti Juara Nasional Adhi Bakti Bina Bahari, penghargaan dari organisasi nirlaba Inggris, Oxfam sebagai pahlawan pangan perempuan (Food Heroes Oxfam) Indonesia tahun 2013, serta pada awal Desember 2013, Jumiati juga terpilih sebagai salah satu tokoh perempuan inspiratif penerima award Tupperware She Can, atas upayanya dalam penguatan ekonomi dan pemberdayaan perempuan di desanya.
Memasuki desa wisata ini, Anda akan menjumpai masyarakat melayu pesisir yang ramah dan senang sekali bercerita. Mereka akan menyambut hangat pengunjung yang datang kesini. Hal ini yang membuat saya tak pernah bosan berkunjung ke desa wisata yang satu ini. Sesampainya dilokasi, kita akan di pandu langsung oleh guide lokal dan diberikan kuliah singkat tentang mangrove. Mulai dari jenis-jenis mangrove, cara menanam mangrove, manfaat mangrove bagi lingkungan serta jenis mangrove apa saja yang dapat diolah menjadi makanan khas. Ada beberapa produk olahan mangrove yang telah diproduksi di desa ini, antara lain : dodol, keripik jeruju, teh jeruju dan sirup. Untuk makanan olahan mangrove seperti dodol dan sirup hanya ada pada musim-musim tertentu saja, karena bahan dasar untuk membuat olahan ini juga hanya tersedia pada musim tertentu. Sebaliknya makanan olahan berbahan dasar daun jeruju akan selalu ada saat musim apapun kamu berkunjung kesini, misalnya saja keripik jeruju dan teh jeruju yang juga merupakan cemilan favorit saya kalo berkunjung kesini nih.
Kegiatan wajib yang dilakukan dilokasi ini tentu saja menanam mangrove. Namun selain itu, kita juga bisa bermain canoe menyebrangi sungai, berburu kepiting bakau di kolam lumpur, mencari kepah laut hingga hunting sunset.  Setelah lelah berpanas-panasan menanam mangrove dan bermain canoe, maka kegiatan yang paling dinantikan tentunya makan siang. Menu makanan yang ditawarkan oleh pengelola desa wisata ini pun sangat menggugah selera, beragam seafood mulai dari ikan, kepiting, kepah, udang, serta sayuran hijau dan buah-buahan segar berjajar rapi di meja makan.
Puas bersantap siang, kami pun melanjutkan kegiatan dengan memasang perangkap kepiting di kolam tanah. Sambil menunggu kepiting masuk kedalam perangkap yang dipasang, kami pun berinisiatif kembali ke tepi pantai mencari kepah laut yang bisa ditemukan didalam pasir pantai. Menjelajahi desa wisata ini semakin menyadarkan saya betapa pentingnya menjaga kelestarian alam, terutama ekosistem mangrove. Satu pohon memang angka yang kecil untuk mengembalikan kelestarian hutan mangrove seperti sedia kala, tetapi jika dilakukan secara berkelanjutan dan dijaga dengan baik, pasti akan sangat berguna dikemudian hari.
Dan itu adalah informasi tentang Wisata Hutan Mangrove Di Medan yang bisa Brader and Sister kunjungi jika sedang berlibur di Kota Medan 🙂